Selasa, 31 Oktober 2017

Perikop tentang Natal

Yohanes 1 : 1 - 18

* Pada mulanya adalah firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Kristus dalam persekutuan abadi dengan Allah, yang menjelma menjadi manusia melalui kelahiran Alami.
(Kelahiran Alami > 
Proses kelahiran Yesus mulai malaikat memberkati buah kandungan Maria, hingga Maria hamil dan melahirkan Yesus di kandang domba)
* Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia (ayat 9). Hidup Kristus adalah terang bagi dunia, yang akan bersinar menerangi kegelapan dan keberdosaan manusia. Sebagian besar manusia tidak menerima kedatanganNya (ayat 11), namun Kristus memberi kasih karunia dan pemahaman kepada manusia, supaya manusia dapat memilih dengan bebas, apakah menerima atau menolak berita kelahiranNya tersebut. Dan bagi mereka yang menerimaNya=beriman kepada Kristus, akan diberi kuasa menjadi anak Allah (ayat 12)
* Melalui kedatangan Kristus, nyatalah kasih karunia dan kebenaran > bahwa Kristus adalah mesias yang dijanjikan Allah di PL (ayat 18). Kristus adalah anak tunggal Allah, yang memasuki hidup kemanusiaan, namun tanpa dosa, yang akan memberikan kasih karunia dan kebenaran tentang janji keselamatan Allah bagi umat manusia.
* Yohanes (orang yang membabtis Yesus dan salah satu kelompok inti Yesus), diutus Allah untuk memberikan kesaksian tentang kelahiran dan tujuan kedatangan Kristus ke dunia (ayat 6)
* Allah mengirim anakNya kedunia sebagai bukti kasihNya kpd kita manusia. Kita sebagai anak2 Allah, haruslah memiliki kasih seperti Bapa kita, yang boleh kita terapkan kepada sesama kita manusia.

Bertemu untuk berpisah

Bukankah sudah menjadi hal yang umum, bila ada pertemuan, maka akan ada perpisahan? 
Bukankah hal ini sudah sering terjadi dikehidupan kita? Dulu, ketika masuk SD, kita bertemu banyak teman, yang pada akhirnya harus berpisah ketika sudah lulus. Namun masuk SMP, kita juga akan bertemu teman baru dan pada akhirnya akan berpisah juga ketika lulus2an. Begitu juga ketika SMA, akan ada pertemuan dan diakhiri dengan perpisahan.
Namun tidak sampai disitu saja, selama kita masih menginjakkan kaki di dunia ini, kita akan tetap mengalami yang namanya pertemuan dan perpisahan. Biasanya jika ada pertemuan, cenderung kita akan merasa sukacita, karna notabennya, kita akan menemukan hal baru (siapasih yang gak senang dgn yang baru?) Namun mengapa pas perpisahan, kita merasa sedih? Padahal kita sudah menyadari sejak dulu, jika ada pertemuan maka akan diikuti dengan perpisahan. Yaa, karna yang namanya perpisahan, sama artinya kehilangan. Siapa sih yang gak sedih jika sudah kehilangan?

Apa? ada orang yang merasa tidak sedih saat terjadi perpisahan? 
kenapa dan bagaimana?
Hmm, aku sendiri sangat sedih dengan keadaan seperti ini.